Friday, 9 August 2013

Konsep dasar dan Diagnosa Keperawatan pasien Appendicitis


A.    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
  1. Pengkajian
a.       Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan.
-          Pengetahuan tentang penyebab dan proses penyakit.
-          Riwayat operasi, riwayat sakit berat: obstruksi tumor.
-          Kebiasaan makan rendah serat, makan pedas, makanan yang sulit dicerna (biji-bijian).

b.      Pola nutrisi metabolik
-          Mual
-          Muntah
-          Anoreksia
-          Demam
c.       Pola eliminasi
-          Konstipasi/diare
-          Penurunan bising usus
-          Perut kembung/tidak ada flatus
d.      Pola aktivitas dan latihan
-          Malaise
-          Takikardi, takipnea
-          Imobilisasi
e.       Pola tidur dan istirahat
-          Kebiasaan tidur (berapa lama)
-          Gangguan tidur karena ketidaknyamanan: nyeri
f.       Pola persepsi dan kognitif
-          Keluhan nyeri pada titik Mc. Burney, nyeri tekan pada titik Mc. Burney, nyeri daerah luka operasi
g.      Pola persepsi dan konsep diri
-          Cemas akan tindakan appendiktomi
-          Gangguan harga diri
h.      Pola koping terhadap stres
-          Persepsi penerimaan sakit
-          Takut/cemas akan tindakan dan perawatan

  1. Diagnosa Keperawatan
a.      Pre Operasi
1)      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya sistem pertahanan tubuh sebagai akibat dari proses inflamasi/peradangan.
2)      Nyeri abdomen berhubungan dengan proses peradangan pada appendik.
3)      Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hipermetabolik (demam, muntah).
4)      Ketidakefektifan manajemen terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit, dan pengobatan.

b.      Post Operasi
1)      Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
2)      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi (puasa), intake kurang.
3)      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan.

  1. Rencana Keperawatan
a.      Pre Operasi
DP.1.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya sistem pertahanan tubuh sebagai akibat dari proses inflamasi/peradangan.
HYD:  Tidak terjadi infeksi ditandai dengan suhu dalam batas normal 36-37oC, integritas kulit utuh, leukosit < 10.000 u/L.
Intervensi:
1)      Monitor TTV terutama suhu tiap 4 jam.
R/  Suhu meningkat menandakan adanya infeksi.
2)      Kaji tanda-tanda peritonitis dan laporkan segera bila perlu.
R/  Mengetahui adanya komplikasi seperti peritonitis.
3)      Hindari pemberian huknah/enema sebelum operasi.
R/  Penggunaan enema/pemberian huknah dapat meningkatkan peristaltik usus dan meningkatkan risiko perforasi.
4)      Berikan diit lunak dan bila perlu beri infus.
R/  Peningkatan nutrisi dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
5)      Kolaborasi dengan medik pemberian antibiotik.
R/  Mencegah infeksi lebih luas.

DP.2.   Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada appendiks.
HYD:  Nyeri berkurang sampai dengan hilang, wajah tampak rileks.
Intervensi:
1)      Kaji dan catat intensitas, lokasi dan lama nyeri.
R/  Mengetahui tingkat rasa nyeri, berguna dalam pengawasan keefektifan obat.
2)      Kaji tanda nyeri baik verbal maupun non verbal.
R/  Bermanfaat mengevaluasi nyeri.
3)      Ajarkan teknik relaksasi seperti: imajinasi, musik yang lembut.
R/  Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman.
4)      Ajarkan teknik nafas dalam dan batuk efektif.
R/  Nyeri dapat meningkatkan ketegangan otot, nafas dalam dan batuk efektif dapat membantu mengurangi ketegangan otot abdomen.
5)      Berikan posisi yang nyaman.
R/  Posisi dapat membantu mengurangi nyeri.
6)      Kolaborasi dengan medik pemberian analgetik.
R/  Terapi analgetik dapat mengurangi nyeri.

DP.3.   Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan hipermetabolik (demam, muntah).
HYD:  Tidak terjadi kekurangan volume cairan, ditandai dengan: membran mukosa lembab, turgor kulit elastis, tanda-tanda vital dalam batas-batas normal, keseimbangan intake output.
Intervensi:
1)      Pantau tanda-tanda vital, catat adanya hipotensi dan takikardi.
R/  Mengevaluasi keefektifan terapi cairan dan respon pada pengobatan.
2)      Observasi membran mukosa, turgor kulit.
R/  Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi.
3)      Pantau dan catat cairan yang keluar dan masuk.
R/  Mengetahui keseimbangan cairan dan jumlah yang diperlukan.
4)      Anjurkan pasien untuk minum air hangat.
R/  Air hangat dapat mengurangi mual dan muntah. Peradangan dapat meningkatkan proses metabolik sehingga diperlukan cairan yang banyak untuk menurunkan demam.
5)      Kolaborasi dengan medik untuk pemberian cairan parenteral.
R/  Menjaga keseimbangan sirkulasi cairan elektrolit.




DP.4.   Ketidakefektifan manajemen terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit, dan pengobatan.
HYD:  Pasien dapat memahami proses penyakit dan pengobatan dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
Intervensi:
1)      Kaji kemampuan dan pengetahuan pasien tentang proses penyakit dan pengobatan.
R/  Membantu memberikan penjelasan yang tepat dan sesuai kebutuhan.
2)      Jelaskan kepada pasien mengenai prosedur persiapan operasi seperti: waktu pembedahan, lingkungan kamar operasi.
R/  Pasien akan lebih mudah mengingat dan lebih kooperatif.
3)      Ajarkan pasien untuk melatih nafas dalam dan latihan otot.
R/  Meningkatkan pengajaran dan aktivitas pasca operasi.

b.      Post Operasi
DP.1.   Nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
HYD:  Nyeri berkurang sampai dengan hilang, wajah tampak rileks.
Intervensi:
1)      Kaji nyeri, intensitas, lokasi dan lamanya.
R/  Berguna dalam pengawasan keefektifan pengobatan.
2)      Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler.
R/  Gravitasi melokalisasi eksudat ke dalam abdomen bawah untuk mengurangi ketegangan abdomen yang bertambah jika posisi terlentang.
3)      Dorong ambulasi dini.
R/  Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh: merangsang peristaltik dan kelancaran flatus.
4)      Kaji ketidaknyamanan yang disebabkan post prosedur operasi.
R/  Ketidaknyamanan mungkin oleh insisi akibat operasi.
5)      Dorong penggunaan teknik relaksasi.
R/  Melepaskan tegangan emosional dan otot, tingkatkan perasaan kontrol.
6)      Kolaborasi dengan medik untuk mempertahankan puasa.
R/  Menurunkan ketidaknyamanan pasien pada peristaltik usus dini dan irigasi gaster.
7)      Kolaborasi dengan medik untuk pemberian analgetik.
R/  Menghilangkan rasa nyeri.

DP.2.   Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pasca operasi (puasa), intake kurang).
HYD:  Tidak terjadi kekurangan volume cairan yang ditandai dengan: tanda-tanda vital dalam batas normal, turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, intake dan output seimbang.
Intervensi:
1)      Observasi tanda-tanda vital (TD, N, HR, S, P).
R/  Hipotensi, takikardi, peningkatan pernafasan, mengidentifikasikan kekurangan volume cairan.
2)      Pantau intake dan output cairan, dan catat warna urine.
R/  Penurunan output urine atau konsentrasi urine pekat mengidentifikasikan dehidrasi membutuhkan peningkatan cairan.
3)      Catat mual dan muntah.
R/  Mual yang terjadi selama 12-24 jam pasca operasi umumnya karena efek anastesi.
4)      Observasi membran mukosa, turgor kulit, suhu kulit dan palpasi perifer, capillary refill time.
R/  Kulit dingin/lembab, denyut perifer lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer.
5)      Kolaborasi dengan medik untuk pemberian cairan parenteral.
R/  Cairan parenteral dapat membantu kebutuhan cairan yang dibutuhkan tubuh.

DP.3.   Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tindakan pembedahan.
HYD:  Luka jahitan bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi.
Intervensi:
1)      Kaji daerah sekitar luka, apakah ada pus, atau jahitan basah.
R/  Deteksi awal jika terjadi gangguan dalam proses penyembuhan.
2)      Jaga luka jahitan tetap kering dan bersih.
R/  Mengurangi resiko infeksi.
3)      Gunakan teknik aseptik saat merawat luka/jahitan.
R/  Mencegah cross infeksi dan mencegah transmisi infeksi bakterial pada luka jahitan.
4)      Perhatikan intake nutrisi klien.
R/  Penting untuk mempercepat penyembuhan luka.

  1. Perencanaan Pulang
a.       Mobilisasi bertahap sesuai kemampuan.
b.      Jaga luka operasi tetap bersih dan kering.
c.       Perhatikan pola makan sehari-hari, makan tinggi serat sangat baik dikonsumsi, kurangi makanan pedas, diit ditingkatkan bertahap: bubur saring, bubur biasa, nasi tim/lunak.
d.      Minum obat sesuai instruksi, kontrol ke dokter.
e.       Segera ke RS bila ada tanda-tanda infeksi: panas, merah, nyeri

No comments:

Post a Comment